MAKASSAR liputan8.id 14/8/26 – Menciptakan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang bagaimana siswa merasa didengar dan memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Semangat tersebut dikembangkan UPTD SPF SMPN 23 Makassar melalui inovasi digital “Juara 23”, akronim dari Jadikan Ungkapan Adukan Rasa. Inovasi ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan perasaan, persoalan, maupun berbagai masalah yang mereka hadapi, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Kepala SMPN 23 Makassar, Hasrah, S.Pd., mengatakan Juara 23 merupakan salah satu upaya sekolah membangun lingkungan pendidikan yang aman, terbuka, nyaman, dan ramah bagi seluruh peserta didik.
“Juara 23 ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengungkapkan perasaan dan mengadukan masalah yang mereka hadapi. Kami ingin siswa memiliki tempat untuk bercerita tanpa merasa takut atau khawatir,” ujar Hasrah.
Melalui platform digital tersebut, siswa dapat menyampaikan berbagai persoalan yang mereka alami, mulai dari masalah pertemanan, konflik antarsiswa, tekanan yang dirasakan, hingga dugaan tindakan bullying.
Salah satu keunggulan Juara 23 adalah mekanisme pengaduan yang memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan laporan secara aman dan menjaga kerahasiaan. Peserta didik tidak diwajibkan mencantumkan identitas ketika menyampaikan aduan.
Menurut Hasrah, mekanisme tersebut penting karena tidak semua anak memiliki keberanian untuk menyampaikan persoalannya secara langsung kepada guru.
“Anak-anak kadang memiliki masalah, tetapi malu atau takut untuk bercerita. Karena itu, kami berusaha menyediakan ruang yang membuat mereka merasa aman untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan,” katanya.
Setiap aduan yang masuk menjadi perhatian pihak sekolah untuk ditindaklanjuti secara bijak dan proporsional. Penanganannya dapat berupa pendampingan, penyelesaian konflik, komunikasi dengan pihak terkait, maupun langkah pencegahan sesuai dengan persoalan yang dihadapi siswa.
Hasrah menegaskan, Juara 23 bukan dibuat semata-mata untuk mencari siapa yang salah. Lebih dari itu, inovasi tersebut menjadi sarana agar persoalan siswa dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
“Yang paling penting adalah bagaimana persoalan anak bisa diketahui lebih awal sehingga dapat segera dicarikan solusi. Kami ingin membangun budaya sekolah yang membuat siswa merasa didengar dan dihargai,” jelasnya.
Kehadiran Juara 23 juga menunjukkan bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi antara siswa dan pihak sekolah. Dengan ruang pengaduan yang mudah diakses, siswa diharapkan tidak memilih diam ketika menghadapi persoalan.
Hasilnya, kasus bullying di SMPN 23 Makassar tercatat nihil. Capaian tersebut menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus memperkuat pencegahan dan membangun budaya saling menghargai di lingkungan pendidikan.
Menurut pihak sekolah, menciptakan lingkungan bebas bullying bukan hanya menjadi tanggung jawab guru. Seluruh warga sekolah memiliki peran untuk saling menjaga, peduli, dan berani menyampaikan ketika menemukan persoalan.
Melalui Juara 23, SMPN 23 Makassar ingin menanamkan pesan sederhana kepada peserta didik: setiap anak berhak merasa aman, didengar, dihargai, dan mendapatkan lingkungan belajar yang nyaman.
Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kanal pengaduan, tetapi juga tumbuh menjadi budaya positif di sekolah ,budaya untuk berani berbicara, saling peduli, menghargai perbedaan, dan bersama-sama mencegah bullying sejak dini. (amr)







