Banner Promo
Headline

Tak Ingin Warga Kekurangan Air, Munafri Cek Langsung Distribusi Air Bersih di Tallo hingga Tamalanrea

×

Tak Ingin Warga Kekurangan Air, Munafri Cek Langsung Distribusi Air Bersih di Tallo hingga Tamalanrea

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR liputan8.id – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kota Makassar membuat kebutuhan air bersih semakin mendesak. Di tengah kondisi tersebut, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin turun langsung memantau distribusi air bersih, menyusuri wilayah Tallo hingga Tamalanrea, Rabu (2/9/2026).

Langkah ini dilakukan untuk memastikan bantuan air bersih tidak berhenti sebatas laporan di atas meja, tetapi benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.

Bagi masyarakat yang terdampak kekeringan, air bukan sekadar bantuan. Air menjadi kebutuhan paling mendasar untuk memasak, mandi, mencuci dan memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

RS Daya MKSR

Kondisi kekeringan di Makassar memang semakin serius. Berdasarkan data BPBD, enam kecamatan terdampak, yakni Tallo, Tamalanrea, Biringkanaya, Ujung Tanah, Panakkukang dan Manggala. Puluhan ribu warga tercatat terdampak krisis air bersih.

Bahkan, pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan sejak 7 Agustus 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mempercepat pengerahan sumber daya dan distribusi air ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan.

Di lapangan, Pemkot Makassar melalui BPBD terus mengerahkan mobil tangki untuk mendistribusikan air. Dalam salah satu penyaluran sebelumnya, bantuan air bersih dikirim ke 23 titik yang tersebar di lima kecamatan, termasuk Tallo dan Tamalanrea.

Munafri memilih turun langsung untuk melihat bagaimana distribusi tersebut berjalan. Cara ini penting karena persoalan air bersih tidak selalu terlihat dari angka maupun laporan administrasi. Di tingkat warga, persoalannya sederhana tetapi sangat menentukan, ada atau tidak air yang bisa digunakan hari itu.

Kekeringan juga diperkirakan belum segera berakhir. BPBD sebelumnya memperkirakan periode September hingga Oktober 2026 menjadi masa yang perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi puncak kekeringan.

Karena itu, distribusi air tangki menjadi solusi cepat yang harus terus dijaga ketepatan sasarannya. Pemerintah tidak hanya dituntut menambah armada dan titik distribusi, tetapi juga memastikan warga yang paling membutuhkan tidak terlewat.

Selain distribusi air, Pemkot Makassar juga mendorong langkah jangka menengah melalui penyediaan sumber air alternatif, termasuk pembangunan sumur dalam di sejumlah wilayah. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap distribusi air tangki ketika kemarau berlangsung panjang.

Turunnya Munafri dari Tallo hingga Tamalanrea menjadi penegasan bahwa persoalan kekeringan harus dilihat langsung dari sisi warga. Sebab ketika kran di rumah tidak mengeluarkan air, yang dihadapi masyarakat bukan sekadar persoalan teknis, melainkan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi setiap hari.

Di tengah kemarau yang belum berakhir, perhatian pemerintah akhirnya diuji bukan dari seberapa banyak bantuan yang diumumkan, tetapi dari seberapa cepat air benar-benar sampai ke rumah warga. (*)

DPRD Makassar

Bapenda