Banner Promo
Headline

Musim Kemarau Tak Hambat Produksi, Pendapatan PDAM Makassar Naik Rp741,6 Juta pada Agustus

×

Musim Kemarau Tak Hambat Produksi, Pendapatan PDAM Makassar Naik Rp741,6 Juta pada Agustus

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR liputan8.id – Musim kemarau tidak sepenuhnya menjadi penghalang bagi Perumda Air Minum Kota Makassar untuk menjaga produksi dan distribusi air kepada pelanggan. Di tengah tantangan ketersediaan air baku, pendapatan perusahaan dari tagihan pemakaian air justru mengalami peningkatan pada Agustus 2026.

Pendapatan PDAM Makassar pada Agustus tercatat mencapai Rp29,06 miliar, meningkat sekitar Rp741,6 juta dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka Rp28,32 miliar.

RS Daya MKSR

Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa pembenahan di sektor produksi dan distribusi mulai memberikan dampak. Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan PDAM tentu bukan hanya bertambahnya pendapatan perusahaan, tetapi sejauh mana air dapat mengalir lebih merata dan pelayanan semakin dapat diandalkan.

Plt Direktur Keuangan Perumda Air Minum Kota Makassar, Wirda Fauzah, mengatakan peningkatan pendapatan tersebut tidak terlepas dari membaiknya produksi air di sejumlah instalasi pengolahan air (IPA).

Menurutnya, sejumlah langkah pembenahan yang dilakukan jajaran Bagian Produksi mulai memberikan hasil. Salah satunya melalui pengerukan Sungai Lekko Paccing yang menjadi salah satu sumber air baku.

“Sejumlah pembenahan yang dilakukan tim produksi mulai memberikan dampak terhadap peningkatan produksi air. Salah satunya melalui pengerukan Sungai Lekko Paccing,” ujar Wirda.

Selain pembenahan sumber air baku, pengoperasian Intake Manggala juga turut membantu meningkatkan pasokan air kepada pelanggan.

Kondisi tersebut perlahan mulai tercermin pada pendapatan berdasarkan wilayah penagihan. Jika sebelumnya terdapat wilayah yang mencatat pendapatan relatif rendah karena pasokan air belum maksimal, kini distribusinya mulai menunjukkan perubahan.

“Kenaikan pendapatan ini terlihat di wilayah utara kota dan beberapa sektor lainnya. Ini menunjukkan bahwa pasokan air mulai lebih merata dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Namun, kenaikan pendapatan di tengah musim kemarau juga membawa tantangan tersendiri. PDAM dituntut tidak hanya menjaga angka penerimaan, tetapi memastikan peningkatan produksi benar-benar berujung pada pelayanan yang dirasakan pelanggan.

Sebab bagi warga, keberhasilan perusahaan air minum tidak semata-mata diukur dari laporan keuangan. Air yang mengalir lebih lancar, tekanan air yang memadai, distribusi yang lebih merata, serta berkurangnya gangguan pelayanan menjadi ukuran yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keterbatasan tersebut, jajaran PDAM juga harus bekerja dengan ruang fiskal dan kewenangan yang ada. Wirda mengakui status direksi yang masih berstatus pelaksana tugas (Plt) membuat ruang gerak untuk mengambil sejumlah kebijakan investasi strategis dengan nilai besar menjadi terbatas.

Meski demikian, kondisi itu tidak membuat upaya perbaikan pelayanan berhenti. PDAM memilih mengoptimalkan langkah-langkah operasional yang masih dapat dilakukan untuk menjaga produktivitas dan menekan kehilangan air.

Salah satu yang terus digenjot adalah program “Grebek Kebocoran”. Tim turun langsung mencari titik-titik kebocoran jaringan, bahkan dilakukan pada malam hingga dini hari ketika kondisi lapangan memungkinkan.

“Tim melakukan pencarian titik kebocoran pada malam hari, bahkan sampai subuh. Ini tentu sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan efisiensi karena semakin cepat kebocoran ditemukan dan ditangani, semakin banyak air yang bisa diselamatkan,” jelas Wirda.

Langkah tersebut menjadi penting di tengah musim kemarau. Setiap tetes air yang hilang akibat kebocoran bukan hanya berpengaruh terhadap efisiensi perusahaan, tetapi juga dapat mengurangi volume air yang seharusnya diterima pelanggan.

Selain kebocoran jaringan, PDAM juga membenahi akurasi pembacaan meter pelanggan. Petugas pembaca meter telah dibekali sistem yang diharapkan mampu menghasilkan pencatatan konsumsi air secara lebih akurat.

Dengan sistem tersebut, potensi taksasi yang tidak sesuai dengan pemakaian aktual dapat ditekan. Bagi pelanggan, akurasi pembacaan meter menjadi bagian penting dari pelayanan karena tagihan seharusnya mencerminkan pemakaian air yang sebenarnya.

“Teman-teman yang bertugas membaca meter sudah dibekali dengan sistem yang cukup baik. Jadi, tidak ada lagi taksasi asal-asalan yang justru dapat memberatkan masyarakat,” ungkapnya.

Kenaikan pendapatan sebesar Rp741,6 juta dalam sebulan akhirnya menjadi dua sisi yang harus dilihat secara bersamaan. Di satu sisi, angka tersebut menunjukkan adanya perbaikan penerimaan perusahaan. Di sisi lain, angka itu menjadi tantangan agar peningkatan pendapatan terus diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan.

Apalagi musim kemarau masih menjadi ujian bagi keberlangsungan pasokan air baku. Kemampuan PDAM menjaga produksi, mengurangi kebocoran, memperbaiki distribusi, dan memastikan pembacaan meter yang akurat akan sangat menentukan seberapa jauh perbaikan kinerja perusahaan benar-benar dirasakan masyarakat.

Wirda menegaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja bersama seluruh jajaran Perumda Air Minum Kota Makassar, mulai dari direksi hingga karyawan yang berada di lapangan.

“Alhamdulillah, semua ini berkat kerja keras teman-teman direksi dan seluruh karyawan yang terus bekerja di lapangan,” pungkasnya.(hkl)

DPRD Makassar

Bapenda