MAKASSAR, LIPUTAN8.ID – Kemarau panjang mulai memberi tekanan terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kota Makassar. Kondisi ini mendorong Perumda Air Minum Kota Makassar memperkuat pola distribusi agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi, termasuk mereka yang tinggal di lorong-lorong sempit.
Menindaklanjuti instruksi Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, PDAM Kota Makassar membuka posko siaga di enam kantor wilayah dan meluncurkan enam unit mobil pickup melalui program Armada Tandon Lorong.

Armada tersebut disiapkan khusus untuk menjangkau permukiman yang tidak dapat dilalui mobil tangki. Dengan kendaraan yang lebih kecil, distribusi air dapat dilakukan lebih dekat ke rumah-rumah warga yang berada di lorong dengan akses jalan terbatas.
Kepala Bagian Distribusi dan Kehilangan Air Perumda Air Minum Kota Makassar, Wahidin, mengatakan enam pickup tersebut merupakan bagian dari skema distribusi bantuan air dalam menghadapi kondisi darurat kekeringan.
“Mobil ini untuk yang tidak bisa dijangkau mobil tangki. Jadi lebih masuk ke dalam lagi untuk pelanggan yang berada di lorong-lorong,” kata Wahidin, Senin (7/9/2026).
Selain enam pickup, PDAM Makassar telah menyiagakan 14 unit mobil tangki untuk mendukung distribusi bantuan air bersih di berbagai wilayah pelayanan.
Wahidin menjelaskan, warga yang membutuhkan bantuan air tetap mengajukan permintaan melalui wilayah pelayanan. Setelah permintaan diterima, petugas akan mengatur pengambilan air dari sumber yang tersedia, termasuk kantong-kantong air maupun reservoir PDAM.
“Permintaannya tetap melalui wilayah. Setelah ada permintaan dari wilayah, baru kami tindak lanjuti,” jelasnya.
Pengoperasian enam pickup tersebut terintegrasi dengan posko siaga yang dibentuk untuk mengantisipasi kondisi darurat kekeringan. Posko menjadi pusat koordinasi untuk mengatur dukungan personel serta distribusi air berdasarkan kebutuhan di lapangan.
“Ini posko untuk antisipasi darurat kekeringan,” ujarnya.
Dengan kapasitas sekitar satu meter kubik atau 1.000 liter, satu kali pengantaran menggunakan pickup diperkirakan dapat membantu memenuhi kebutuhan sekitar empat hingga lima rumah, tergantung kebutuhan masing-masing pelanggan.
“Kalau satu kubik, kurang lebih bisa melayani 4-5 rumah,” kata Wahidin.
Sementara itu, Kepala Wilayah Pelayanan IV Perumda Air Minum Kota Makassar, Fitriah Gasim, mengatakan pelayanan akan disesuaikan dengan permintaan dan kondisi pelanggan di masing-masing wilayah.
“Pengaduannya langsung dari wilayah,” kata Fitriah.
Fitriah menyebut tandon yang digunakan di wilayah pelayanan memiliki kapasitas sekitar 1.200 liter. Kapasitas tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan air hingga sekitar lima rumah dalam satu kali pengantaran, tergantung kondisi di lapangan.
“Untuk satu tandon bisa melayani sampai lima rumah. Kapasitas tandon kita di wilayah sekitar 1.200 liter,” ujarnya.
Menurut Fitriah, permintaan yang bersifat mendesak akan menjadi perhatian petugas. Bahkan, distribusi dapat dilakukan hingga malam apabila kondisi warga membutuhkan penanganan segera.
“Kalau ada yang urgen, kita akan layani sampai malam,” tegasnya.
Pelanggan yang membutuhkan bantuan air dapat menyampaikan pengaduan melalui kantor wilayah pelayanan. Laporan tersebut kemudian dikoordinasikan untuk menentukan penanganan dan pola distribusi sesuai kondisi lokasi.
Program Armada Tandon Lorong menjadi langkah PDAM Makassar untuk memastikan keterbatasan akses jalan tidak menghambat warga mendapatkan air bersih. Jika mobil tangki hanya dapat menjangkau jalan yang lebih lebar, pickup menjadi armada yang bergerak lebih jauh masuk ke permukiman.
Di tengah tekanan kemarau terhadap ketersediaan sumber air baku, PDAM Makassar mengandalkan kombinasi 14 mobil tangki dan enam pickup untuk memperluas jangkauan distribusi bantuan air.
Bagi warga yang tinggal di lorong-lorong sempit, kehadiran armada ini diharapkan bukan sekadar bantuan sementara, tetapi menjadi bentuk pelayanan yang benar-benar mendekat kepada kebutuhan masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen PDAM Kota Makassar untuk memberikan pelayanan yang sigap, efisien, andal, responsif, dan amanah, terutama ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat kekeringan.(*)












