Makassar Bangun Kota Ramah Lansia, BELATI hingga SIDAYA Jadi Penggerak
MAKASSAR liputan8.id — Pemerintah Kota Makassar terus mendorong terwujudnya lingkungan yang ramah bagi kelompok lanjut usia (lansia). Tak hanya melalui pelayanan kesehatan, perhatian terhadap lansia juga diarahkan pada penguatan kemandirian, produktivitas, interaksi sosial, dan kesempatan untuk terus belajar.

Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah inovasi, di antaranya BELATI (Beranda Lansia Produktif), Sekolah Lansia, dan SIDAYA (Lansia Berdaya). Ketiganya menjadi bagian dari pendekatan pemberdayaan yang menempatkan lansia bukan sekadar sebagai penerima pelayanan, tetapi sebagai bagian penting dari masyarakat yang tetap memiliki potensi.
BELATI Buka Ruang Lansia Tetap Produktif
BELATI menjadi salah satu inovasi yang dikembangkan untuk memberikan ruang kepada lansia agar tetap aktif dan produktif. Pemerintah Kota Makassar memasukkan BELATI sebagai salah satu inovasi perubahan yang diluncurkan pada 2024.
Melalui pendekatan tersebut, lansia didorong untuk tetap terlibat dalam berbagai aktivitas sesuai kemampuan dan minatnya. Pengalaman, pengetahuan, serta keterampilan yang dimiliki dapat terus dimanfaatkan, baik untuk keluarga maupun lingkungan sekitar.
Pemberdayaan ini sekaligus menjadi upaya mengubah cara pandang terhadap lansia. Bertambahnya usia tidak berarti seseorang harus berhenti beraktivitas atau kehilangan kesempatan untuk berkontribusi.
Sekolah Lansia Jadi Ruang Belajar Sepanjang Hayat
Semangat pemberdayaan juga diperkuat melalui Sekolah Lansia. Program ini menjadi ruang bagi lansia untuk mendapatkan pengetahuan, membangun keterampilan, sekaligus memperluas interaksi sosial.
Materi dan aktivitas Sekolah Lansia dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari kesehatan fisik dan mental, kehidupan sosial, spiritualitas, hingga keterampilan yang mendukung kemandirian.
Lebih dari sekadar tempat belajar, Sekolah Lansia juga menjadi ruang pertemuan. Para peserta dapat berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengikuti kegiatan bersama.
Konsep tersebut menegaskan bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia. Lansia tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru dan mengembangkan kemampuan sesuai kondisi serta minat masing-masing.
SIDAYA Dorong Lansia Tetap Berdaya
Sementara itu, SIDAYA atau Lansia Berdaya hadir dengan pendekatan yang lebih luas untuk mendorong terwujudnya lansia yang sehat, aktif, produktif, dan sejahtera.
Pemberdayaan tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik. Aspek emosional, spiritual, intelektual, sosial, profesional atau vokasional, hingga lingkungan turut menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kualitas hidup lansia sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Dukungan keluarga, kesempatan bersosialisasi, serta ruang untuk mengembangkan potensi menjadi bagian penting dalam menjalani masa lanjut usia secara bermartabat.
Kolaborasi Jadi Kunci
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Makassar, Andi Irwan Bangsawan, mengatakan pemberdayaan lansia perlu diarahkan pada upaya membangun kemandirian sekaligus mempertahankan peran mereka di tengah keluarga dan masyarakat.
“Lansia tidak boleh kita lihat hanya sebagai kelompok yang membutuhkan pelayanan. Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, dan potensi yang tetap bisa dikembangkan. Karena itu, pendekatan kita harus bergeser dari sekadar pembinaan menjadi pemberdayaan,” ujarnya.
Menurut Andi Irwan, BELATI, Sekolah Lansia, dan SIDAYA menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang yang lebih luas bagi lansia untuk tetap belajar, bersosialisasi, menjaga kesehatan, dan mengembangkan potensi.
“Melalui BELATI, Sekolah Lansia, dan SIDAYA, kita ingin memastikan bahwa lansia tetap memiliki ruang untuk berkegiatan dan berkontribusi. Usia bukan menjadi batas untuk belajar dan berkarya,” jelasnya.
Ia menambahkan, keluarga memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan lansia. Perhatian, dukungan emosional, serta kesempatan untuk tetap beraktivitas dapat membantu lansia menjalani masa tua dengan lebih percaya diri.
Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat juga perlu terus menciptakan ruang partisipasi melalui kegiatan edukatif, sosial, kesehatan, maupun aktivitas produktif.
Dengan penguatan BELATI, Sekolah Lansia, dan SIDAYA, DPPKB Kota Makassar berharap tercipta ekosistem yang semakin ramah terhadap lansia.
Lansia tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi sebagai bagian masyarakat yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan potensi untuk terus memberikan manfaat.
“Yang kita bangun bukan hanya program untuk lansia, tetapi ekosistem yang ramah lansia. Pemerintah, keluarga, dan masyarakat harus berjalan bersama agar masa lanjut usia dapat dijalani dengan sehat, bermartabat, mandiri, dan tetap memiliki makna,” kata Andi Irwan.
Menguatkan lansia pada akhirnya bukan hanya tentang memberikan pelayanan, tetapi juga memastikan mereka tetap memiliki ruang untuk belajar, bersosialisasi, berkarya, dan berkontribusi. Dengan begitu, Makassar tidak hanya menjadi kota yang tumbuh secara modern, tetapi juga kota yang mampu merangkul seluruh kelompok usia.(hkl)







