LUWU UTARA liputan8.id — Perjalanan panjang melewati jalan berlumpur, tebing terjal hingga jurang tidak menyurutkan langkah Bunda PAUD Kabupaten Luwu Utara untuk memastikan layanan pendidikan anak usia dini menyentuh wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Rombongan Bunda PAUD Luwu Utara, Ny. Misnawati Andi Abdullah Rahim, bersama Ketua Pokja Bunda PAUD yang juga Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Luwu Utara, Sriwati, S.Pd., M.Pd., melakukan kunjungan kerja ke sejumlah wilayah 3T, termasuk Seko dan desa-desa di sekitarnya.

Kunjungan tersebut diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari peningkatan kompetensi guru, penuntasan Anak Tidak Sekolah (ATS), penguatan layanan PAUD Holistik Integratif (PAUD HI), hingga penguatan Posyandu Era Baru.
Dalam kesempatan itu, Sriwati juga melakukan monitoring terhadap sejumlah satuan pendidikan yang menerima BOP Afirmasi. Para kepala sekolah dikumpulkan untuk mendapatkan materi dan penguatan terkait peningkatan kualitas layanan pendidikan di wilayah masing-masing.
Tidak hanya menyasar sekolah, rombongan juga mengumpulkan anak-anak yang berada di wilayah 3T sebagai bagian dari upaya penuntasan ATS. Guru dan orang tua diberikan pemahaman mengenai pentingnya memastikan anak memperoleh hak pendidikan serta layanan tumbuh kembang secara menyeluruh.
Sriwati menegaskan, PAUD HI menjadi salah satu perhatian penting dalam kunjungan tersebut. Layanan PAUD tidak hanya berbicara tentang kegiatan belajar mengajar, tetapi juga harus terintegrasi dengan aspek kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan dan perkembangan anak.
Ia berharap pada 2026 seluruh satuan PAUD di Kabupaten Luwu Utara dapat melaksanakan layanan PAUD HI. Program tersebut juga diharapkan berjalan seiring dengan penerapan tujuh Gerakan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sejak usia dini.
“Bukan hal yang mudah untuk sampai ke Seko dan desa yang ada di sekitarnya. Perjalanan yang sangat ekstrem memberikan jawaban begitu pentingnya menyentuh daerah 3T ini,” kata Sriwati.
Menurutnya, kondisi medan yang berat sekaligus memperlihatkan besarnya pengorbanan para pendidik yang bertugas di daerah tersebut. Para guru harus melewati jalan penuh rintangan, tebing dan jurang terjal, jalan bergelombang, bahkan menggunakan ojek dengan kondisi berlumpur dan di bawah teriknya matahari untuk mencapai sekolah.
“Ini sangat luar biasa. Pengorbanan pendidik di sana dalam memberikan pelayanan kepada anak-anak patut kita apresiasi,” ujarnya.
Untuk mempercepat penuntasan ATS, Sriwati mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan inovasi berbasis digital. Rencananya akan dibuat sebuah aplikasi yang dapat diakses oleh sekolah maupun masyarakat untuk membantu mengidentifikasi dan mendaftarkan anak yang belum bersekolah.
“Insya Allah kami akan membuat suatu aplikasi yang bisa diakses oleh sekolah dan warga untuk membantu mengidentifikasi dan mendaftarkan anak tidak sekolah ke Sanggar Kegiatan Belajar yang ada di Kabupaten Luwu Utara secara gratis,” jelasnya.
Upaya tersebut diharapkan menjadi jembatan bagi anak-anak yang belum mengenyam pendidikan agar kembali mendapatkan hak belajarnya. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara ingin memastikan jarak dan sulitnya akses tidak menjadi alasan bagi anak-anak di pelosok untuk kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.
Kunjungan ke wilayah 3T ini sekaligus menjadi pesan bahwa pemerataan pendidikan harus dimulai dari tempat-tempat yang paling sulit dijangkau. Di balik perjalanan yang penuh tantangan, terdapat anak-anak dan guru yang menunggu perhatian, dukungan dan kehadiran pemerintah.(hkl)












