MAKASSAR, Liputan8.id – Kepedulian tidak selalu diukur dari besarnya bantuan, tetapi dari ketulusan untuk hadir dan berbagi dengan sesama yang sedang menghadapi kesulitan. Semangat itulah yang ditunjukkan keluarga besar UPT SPF SMPN 37 Makassar dengan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak kebakaran di Kecamatan Tallo, Makassar.
Bantuan yang diserahkan pada Ahad (9/8/2026) tersebut merupakan hasil penggalangan donasi yang melibatkan guru, tenaga kependidikan, siswa, dan seluruh warga sekolah. Aksi kemanusiaan ini menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat musibah kebakaran.

Kepala UPT SPF SMPN 37 Makassar, Amir Tika, S.Ag., menyampaikan rasa duka mendalam atas musibah yang menimpa warga. Ia berharap para korban diberikan kekuatan dan ketabahan untuk melewati masa sulit tersebut.
“Atas nama keluarga besar UPT SPF SMPN 37 Makassar, kami menyampaikan rasa duka dan keprihatinan yang mendalam atas musibah kebakaran yang menimpa saudara-saudara kita di Tallo. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan kepada seluruh korban yang terdampak,” ujarnya.
Menurut Amir Tika, bantuan tersebut lahir dari semangat kebersamaan dan gotong royong seluruh warga sekolah. Setiap pihak berupaya mengambil bagian, menyisihkan rezeki, serta memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing.
Ia menyadari bantuan yang diberikan mungkin belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan para korban. Namun, lebih dari nilai materi, ada pesan kepedulian yang ingin disampaikan bahwa masyarakat yang tertimpa musibah tidak menghadapi cobaan ini sendirian.
“Meskipun nilainya mungkin tidak seberapa, kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban dan memberikan semangat bahwa saudara-saudara kita tidak sendiri dalam menghadapi cobaan ini,” tambahnya.
Penggalangan donasi tersebut berlangsung selama tiga hari terakhir sebelum penyerahan bantuan. Menariknya, gerakan solidaritas ini berawal dari inisiatif para siswa melalui organisasi intra sekolah, yang kemudian mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah.
Inisiatif tersebut menjadi gambaran tumbuhnya kepedulian sosial di kalangan peserta didik. Para siswa tidak hanya belajar tentang nilai kemanusiaan melalui pelajaran di kelas, tetapi juga berusaha menerapkannya melalui tindakan nyata untuk membantu masyarakat.
Pihak sekolah selanjutnya membuka posko donasi darurat di halaman depan sekolah. Melalui posko tersebut, warga sekolah dapat berpartisipasi mengumpulkan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.
Kepedulian SMPN 37 Makassar tidak berhenti pada pengumpulan donasi. Sekolah juga mengirimkan tim relawan kecil yang terdiri atas guru dan karyawan untuk membantu mendata kebutuhan dasar warga terdampak.
Kebutuhan tersebut antara lain pakaian layak pakai, selimut, dan perlengkapan ibadah. Pendataan dilakukan agar bantuan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan warga di lokasi pengungsian.
Bagi Amir Tika, keterlibatan seluruh warga sekolah dalam kegiatan sosial seperti ini memiliki makna penting. Selain membantu masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menanamkan nilai empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial kepada para siswa sejak dini.
Ia berharap semangat berbagi yang tumbuh dari lingkungan sekolah dapat terus terpelihara dan menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter dan menumbuhkan kepekaan terhadap keadaan di sekitar.
Kebakaran yang melanda permukiman padat penduduk di Kecamatan Tallo pada Rabu sebelumnya dilaporkan menghanguskan puluhan rumah dan menyebabkan ratusan warga harus mengungsi ke tempat sementara.
Di tengah kondisi tersebut, dukungan berbagai pihak menjadi penting untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memberikan kekuatan bagi warga dalam memulai kembali kehidupan mereka.
Melalui aksi solidaritas ini, keluarga besar UPT SPF SMPN 37 Makassar berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat bagi para korban. Lebih dari itu, mereka ingin menegaskan bahwa semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama harus terus hidup, terutama ketika saudara-saudara di sekitar membutuhkan uluran tangan.
Sebab, di tengah musibah, kepedulian yang tulus dapat menjadi penguat harapan bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit kembali.(hkl)








