Makassar liputan8.id – Langkah besar dilakukan pendiri Bosowa Group, HM Aksa Mahmud. Tokoh pengusaha nasional asal Sulawesi Selatan itu resmi menjadi pemegang saham terbesar PT Fajar Indonesia Corporindo setelah mengakuisisi sebagian besar saham yang sebelumnya dimiliki Jawa Pos.
Dengan transaksi tersebut, kepemilikan saham Aksa Mahmud kini mencapai 49,88 persen. Posisi itu menempatkannya sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan yang menaungi Fajar Group, salah satu kelompok media terbesar di kawasan Indonesia Timur.

Direktur Utama PT Fajar Indonesia Corporindo, Suhendro Boroma, menjelaskan bahwa kepemilikan tersebut berasal dari pembelian sekitar 40,5 persen saham milik Jawa Pos dan tambahan saham milik Dorothea Samola. Ia menegaskan, transaksi dilakukan atas nama pribadi HM Aksa Mahmud, bukan melalui Bosowa Group.
Di balik nilai bisnis yang besar, Aksa Mahmud menegaskan bahwa keputusannya membeli saham Fajar Group bukan sekadar investasi. Baginya, Fajar memiliki nilai sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupnya bersama dua sahabat sekaligus tokoh nasional, almarhum HM Alwi Hamu dan HM Jusuf Kalla.
Menurut Aksa, sebelum memutuskan membeli saham yang dilepas Jawa Pos, dirinya terlebih dahulu menawarkan kesempatan tersebut kepada keluarga almarhum HM Alwi Hamu. Namun karena belum dapat direalisasikan, ia memilih mengambil alih saham tersebut agar kepemilikan Fajar tetap berada di tangan sosok yang memahami sejarah, perjuangan, dan cita-cita besar saat media itu didirikan.
“Yang ingin saya jaga bukan hanya perusahaan, tetapi juga sejarah dan semangat yang kami bangun bersama sejak awal. Fajar lahir dari kebersamaan dan komitmen untuk menghadirkan media yang kuat di Indonesia Timur,” ungkap Aksa Mahmud dalam konferensi pers di Graha Pena Makassar, Kamis (23/7/2026).
PT Fajar Indonesia Corporindo merupakan perusahaan induk yang membawahi berbagai lini usaha, mulai dari media cetak, media digital, media elektronik, percetakan, properti, transportasi, layanan kesehatan hingga sektor pendidikan. Selama puluhan tahun, Fajar Group tumbuh menjadi salah satu pilar industri media di kawasan timur Indonesia dengan jangkauan pembaca yang luas.
Perubahan struktur kepemilikan ini dipandang sebagai momentum penting bagi keberlanjutan perusahaan. Kehadiran Aksa Mahmud sebagai pemegang saham terbesar diharapkan mampu memperkuat fondasi bisnis sekaligus menjaga independensi dan profesionalisme Fajar Group dalam menghadapi dinamika industri media yang terus berkembang.
Lebih dari sekadar perubahan komposisi saham, langkah Aksa Mahmud menjadi simbol upaya menjaga warisan para pendiri. Di tengah perubahan zaman dan tantangan transformasi digital, semangat yang dibangun sejak awal diharapkan tetap menjadi pijakan bagi Fajar Group untuk terus tumbuh, berinovasi, dan memberikan informasi yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia, khususnya di kawasan timur.
Apabila akan diterbitkan di portal berita, naskah ini sudah menggunakan gaya penulisan yang mengalir, humanis, dan memenuhi kaidah berita dengan fokus pada nilai sejarah, keberlanjutan perusahaan, serta sisi kemanusiaan di balik keputusan Aksa Mahmud.(hkl)







