Banner Promo
Daerah

Di Balik Dharma Santi Nyepi, Hangatnya Toleransi yang Menyatukan Makassar

×

Di Balik Dharma Santi Nyepi, Hangatnya Toleransi yang Menyatukan Makassar

Sebarkan artikel ini

MAKASSAR liputan8.id — Malam itu, suasana di Hotel Harper Makassar terasa berbeda. Nuansa khas Hindu dengan ornamen penuh warna berpadu dengan senyum hangat para tamu yang datang dari beragam latar belakang. Di ruang itulah, kebersamaan terasa nyata,melampaui sekat agama dan perbedaan.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, hadir di tengah perayaan Dharma Santi Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026, Jumat malam (3/4/2026). Namun malam itu bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi ruang perjumpaan, tempat nilai toleransi benar-benar hidup.

Munafri, yang akrab disapa Appi, tampak menikmati setiap detail acara. Ia bahkan mengaku terkesan dengan keindahan ornamen serta kekayaan budaya yang ditampilkan umat Hindu. Baginya, suasana seperti ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga mengandung pesan kuat tentang arti kebersamaan.

“Kalau hanya satu warna, tidak akan indah. Tapi ketika beragam, justru menjadi lebih indah,” ujarnya, menggambarkan wajah Makassar yang ia kenal.

Di kota ini, lanjutnya, perayaan keagamaan silih berganti,dari Natal, Cap Go Meh, Idulfitri, hingga Hari Nyepi,namun semuanya berjalan dalam harmoni. Tidak ada sekat yang menghalangi, yang ada justru ruang untuk saling menghormati.

Bagi Appi, toleransi bukan sekadar slogan. Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana: saling memberi ruang, saling menghargai, dan hadir dalam momen-momen penting satu sama lain. Hal-hal kecil itu, katanya, justru menjadi fondasi kuat bagi kota yang damai.

Di tengah suasana yang hangat, harapan pun disampaikan. Pemerintah Kota Makassar berencana menghadirkan “Kampung Toleransi”, sebuah simbol nyata kehidupan berdampingan antarumat beragama. Sebuah ruang di mana rumah ibadah berdiri berdekatan, dan perbedaan menjadi kekuatan, bukan penghalang.

Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Makassar, Dewa Nyoman Mahendrajaya, mengingatkan bahwa Nyepi bukan sekadar pergantian tahun. Ia adalah momen hening untuk refleksi, melalui Catur Brata Penyepian,sebuah laku spiritual untuk membersihkan diri dan menata ulang kehidupan.

Namun di luar keheningan itu, ada semangat yang tetap menyala: kebersamaan. Ia menegaskan, umat Hindu di Makassar akan terus menjadi bagian dari denyut pembangunan kota.

“Kalau dibutuhkan, kami siap berada di garda terdepan,” ujarnya.

Malam pun beranjak larut. Namun pesan yang tersisa tetap hangat,bahwa di kota ini, perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan jembatan untuk saling mendekat.

Di Makassar, toleransi bukan hanya kata. Ia hidup, tumbuh, dan dirayakan bersama.

Kalau mau, saya bisa buatkan juga versi lebih menyentuh (feature mendalam) atau lebih singkat untuk headline portal.(hkl)

DPRD Makassar