MAKASSAR liputan8.id – Rencana aksi penutupan Jalan Tamangapa pada Kamis, 2 April 2026, memicu penolakan keras dari warga Antang. Aksi yang disebut akan dilakukan oleh salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) itu dinilai berpotensi melumpuhkan aktivitas masyarakat dan memperparah persoalan lingkungan di wilayah tersebut.
Warga menilai, penutupan akses jalan utama bukanlah cara yang tepat dalam menyampaikan aspirasi. Terlebih, Jalan Tamangapa merupakan jalur vital yang setiap hari dilalui kendaraan warga, termasuk armada pengangkut sampah.
“Saya tidak setuju kalau ada penutupan jalan di Tamangapa. Ini jelas merugikan warga. Mobil pengangkut sampah bisa tertahan dan menumpuk, akhirnya memicu kemacetan dan berdampak ke mana-mana. Semua pengguna jalan dirugikan, apalagi ini jalan provinsi,” tegas salah seorang warga.
Menurutnya, jika akses tersebut ditutup, dampaknya tidak hanya dirasakan pengguna jalan, tetapi juga bisa mengganggu pelayanan publik serta aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Warga pun mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk tidak memberikan izin terhadap aksi demonstrasi yang dilakukan dengan cara menutup jalan. Mereka meminta ada ketegasan agar kepentingan umum tidak dikorbankan.
“Warga berharap pemerintah dan pihak keamanan tidak memberi izin jika aksinya dengan menutup jalan. Jangan sampai kepentingan banyak orang dikorbankan,” tutupnya.







