JAKARTA liputan8.id – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS memicu kecaman luas dari berbagai kalangan. Insiden ini dinilai bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan diduga kuat sebagai aksi yang telah direncanakan.
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyebut serangan tersebut memiliki indikasi kuat sebagai tindakan terorganisir.
“Ini bukan kejadian spontan. Ada tanda-tanda bahwa ini merupakan aksi yang terorganisir,” ujar Anies.
Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap aktivis merupakan ancaman serius bagi kehidupan demokrasi. Ia menegaskan bahwa kritik seharusnya dipandang sebagai bagian dari kontrol publik, bukan ancaman.
“Kritik adalah bagian dari demokrasi, bukan sesuatu yang harus dibungkam dengan kekerasan,” tegasnya.
Peristiwa ini juga memicu keprihatinan dari berbagai pihak, mulai dari aktivis, akademisi, hingga tokoh publik. Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk mengungkap pelaku dan kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan.
Insiden ini dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap pejuang hak asasi manusia serta berpotensi mengancam kebebasan berpendapat di Indonesia.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik penyiraman air keras tersebut.(*)







