Makassar, Liputan8.id – Peta persaingan calon Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) kian mengerucut. Dari sejumlah nama yang sempat mencuat, kini hanya tersisa tiga figur yang dinilai paling berpeluang memperebutkan kursi Ketua Golkar Sulsel.
Sebelumnya, nama petahana Taufan Pawe (TP) sempat menjadi sorotan utama. Namun, Anggota DPR RI tersebut secara resmi menyatakan tidak akan kembali maju dalam bursa pemilihan Ketua Golkar Sulsel. Keputusan itu diambil dengan alasan ingin fokus menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat di Senayan.
Selain Taufan Pawe, figur Adnan Ichsan YL juga sempat disebut-sebut sebagai kandidat potensial. Akan tetapi, dalam beberapa waktu terakhir, Adnan dinilai tidak lagi menunjukkan manuver politik yang mengarah pada pencalonan, sehingga peluangnya dianggap kian mengecil.
Dengan demikian, perhatian kini tertuju pada tiga nama yang masih konsisten dan dinilai memiliki kekuatan politik signifikan.
Mereka adalah Munafri Arifuddin (Appi) yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Makassar, Andi Ina Kartika Sari selaku Bupati Barru, serta Ilham Arief Sirajuddin (IAS) mantan Wali Kota Makassar.
Mundurnya Taufan Pawe Dinilai Sarat Kepentingan Politik
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin, Ali Armunanto, menilai keputusan Taufan Pawe untuk tidak maju kembali bukanlah keputusan sederhana.
Menurutnya, alasan yang disampaikan ke publik, yakni ingin fokus di DPR RI, merupakan alasan normatif yang mudah diterima dan minim polemik.
“Alasan fokus di Senayan itu rasional dan aman secara politik. Publik tidak akan banyak bertanya,” ujar Ali yang dikutip Liputan8.id, Ahad (11/1/2025).
Namun, Ali menegaskan bahwa di balik keputusan tersebut terdapat faktor politik yang lebih kompleks. Ia menilai, ambisi Taufan Pawe untuk kembali memimpin Golkar Sulsel sebelumnya masih sangat besar.
“Saya melihat sebelumnya ambisi Pak Taufan Pawe untuk maju masih kuat. Karena itu, mundurnya beliau pasti dipengaruhi faktor-faktor politik lain yang tidak disampaikan ke publik,” jelasnya.
Salah satu faktor utama yang disorot Ali adalah tidak adanya restu dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Dalam konteks Musda Golkar, restu DPP dinilai sebagai faktor krusial yang sangat menentukan arah kontestasi.
“Bisa diduga kuat, tidak adanya restu DPP menjadi alasan utama. Ini bagian dari bargaining politik agar Pak Taufan Pawe tidak maju dan membuka ruang bagi kandidat lain,” terangnya.
Ali menambahkan, meskipun tidak lagi mencalonkan diri, Taufan Pawe tetap memiliki kekuatan politik yang signifikan. Basis dukungan yang ia miliki berpotensi memengaruhi peta kekuatan para kandidat yang bertarung.
“Kalau beliau tetap maju, itu bisa mengganggu atau bahkan mengacaukan peta kekuatan kandidat tertentu. Di situ kemudian muncul apa yang kita kenal sebagai politik ‘dagang sapi’,” ungkap Ali.
Dukungan Taufan Pawe Jadi Komoditas Politik
Dalam skema tersebut, Taufan Pawe dinilai tetap memiliki posisi tawar yang tinggi. Dukungan politiknya menjadi komoditas penting dalam dinamika internal Golkar Sulsel.
“Ada politik saling memberi. Pak Taufan Pawe tidak maju, tetapi ada kompensasi politik, baik dari DPP maupun dari kandidat yang berharap memperoleh limpahan dukungan beliau,” paparnya.
Terkait ke mana arah dukungan Taufan Pawe akan bermuara, Ali menilai hal itu sangat bergantung pada kandidat yang memiliki pengaruh paling kuat di DPP Partai Golkar.
Peluang Tiga Kandidat
Dari tiga nama yang menguat, Munafri Arifuddin (Appi) dinilai memiliki keuntungan tersendiri. Selain menjabat sebagai Wali Kota Makassar, Appi disebut telah mengantongi dukungan dari sejumlah DPD II Golkar di kabupaten/kota.
Ali juga menyoroti kehadiran Muhyiddin sebagai Pelaksana Tugas (Plt) di struktur Golkar Sulsel yang disambut langsung oleh Appi. Hal tersebut dinilai sebagai sinyal politik yang tidak bisa diabaikan.
“Kehadiran Pak Muhyiddin sebagai Plt bisa menjadi indikasi dan berpotensi memberi keuntungan elektoral bagi Appi dalam pemilihan Ketua Golkar Sulsel,” jelasnya.
Sementara itu, Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Andi Ina Kartika Sari juga dinilai memiliki peluang yang tidak kalah besar. Keduanya disebut memiliki kedekatan dengan sejumlah politisi senior Golkar, seperti Nurdin Halid dan Idrus Marham, yang masih berpengaruh dalam dinamika internal partai.
Lebih jauh, Ali menambahkan bahwa nama-nama elite Golkar nasional seperti Jusuf Kalla dan Erwin Aksa juga masih memiliki pengaruh signifikan di tingkat pusat. Kandidat yang berada dalam lingkaran elite tersebut dinilai patut diperhitungkan.
“Relasi itu ada, tetapi saya melihat pengaruhnya tidak selalu dominan. Di Golkar, kekuatan elite pendukung kandidat tertentu tetap menjadi faktor penentu utama,” pungkasnya.











