MAKASSAR liputan8.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengajak kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk mengambil peran nyata dalam pemberdayaan masyarakat dengan memulai dari lingkungan terdekat, yakni lorong-lorong di Kota Makassar.
Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Darul Arqam Madya (DAM) Pelatihan Instruktur Dasar (PID) Pengurus Cabang (PC) IMM Kota Makassar di Pusdiklat Unismuh, Minggu (29/3/2026).
Dalam arahannya, Munafri yang akrab disapa Appi menekankan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori kepemimpinan, tetapi harus mampu menghadirkan solusi konkret di tengah masyarakat.
Menurutnya, salah satu peluang yang bisa digarap adalah sektor pangan, khususnya tingginya kebutuhan telur dan ayam di Makassar. Ia mendorong kader IMM memanfaatkan peluang tersebut melalui program urban farming berbasis lorong.
“Ini peluang besar. Mahasiswa harus jadi motor penggerak, mulai dari melihat kebutuhan yang ada di sekitar,” ujarnya.
Appi bahkan menantang kader IMM untuk membina minimal dua lorong sebagai percontohan dengan konsep “satu lorong satu kandang”. Program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong warga.
Pemerintah Kota Makassar, lanjutnya, siap memberikan dukungan berupa infrastruktur dan pendampingan teknis melalui organisasi perangkat daerah terkait.
“Kalau satu lorong saja bisa kita gerakkan, itu sudah menunjukkan anak muda mampu memberi dampak langsung,” tegasnya.
Selain peternakan, Appi juga mendorong pengembangan budidaya ikan dengan metode sederhana yang sesuai dengan kondisi perkotaan, seperti penggunaan drum atau wadah terbatas.
Ia menilai keterbatasan lahan bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk berinovasi dengan pendekatan yang lebih kreatif dan adaptif.
Di sisi lain, Munafri turut menyoroti persoalan pengelolaan sampah sebagai tantangan besar kota. Ia mengungkapkan bahwa produksi sampah di Makassar telah mencapai lebih dari 1.000 ton per hari, sehingga membutuhkan solusi jangka panjang.
Pemerintah Kota Makassar saat ini tengah mendorong transformasi sistem Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dari metode open dumping menjadi sanitary landfill, serta mengembangkan konsep waste to energy agar sampah dapat diolah menjadi sumber energi.
“Kebersihan adalah fondasi. Kalau kota bersih, investasi masuk, masyarakat sehat,” jelasnya.
Appi pun membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi kader IMM untuk terlibat dalam berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Ia berharap, melalui proses pengkaderan, lahir gerakan nyata yang dimulai dari langkah kecil namun berdampak besar bagi masyarakat.
“Mulai saja dulu. Karena yang paling sulit itu memulai,” tutupnya.
(hkl)







